KORANPALU.COM | PARIGI MOUTONG — Kontroversi beras bantuan Bulog di Kecamatan Ongka Malino terus bergulir. Setelah Ketua Apdesi dan Camat Ongka Malino angkat suara, kini giliran anggota DPRD Parigi Moutong Dapil III, Wayan Murtama yang ikut bersuara.
“Nanti saya sampaikan persoalan ini dengan Dinas Pangan. Nanti saya info bang, saya masih ada kegiatan ritual hari ini. Semoga saya bisa ketemu atau berdialog dengan pihak dinas,” ujar Wayan saat dihubungi Minggu (24/8).
Ia menegaskan, kualitas beras bantuan semestinya tidak boleh merugikan masyarakat. “Bantuan pangan ini niatnya meringankan beban rakyat kecil, bukan menambah masalah baru. Pemerintah harus serius,” tegasnya.
Sementara itu, kepala Bulog Ongka Malino hingga kini memilih bungkam. Tidak ada data resmi berapa ton beras bantuan yang disalurkan maupun jumlah kepala keluarga penerima. Sikap diam ini menimbulkan pertanyaan publik dan memperpanjang keresahan masyarakat.
Ketua Apdesi Ongka Malino juga menyampaikan keresahannya. Ia menegaskan bahwa para kepala desa sudah menerima laporan warga terkait kualitas beras bantuan. “Kami minta ada kepastian. Kalau berasnya rusak, jangan dibiarkan. Harus ada solusi nyata dari Bulog,” ujarnya.
Sejumlah warga mengaku kecewa dengan kualitas beras yang diterima. Mereka menyebut beras tersebut keras, cepat kering saat dimasak, bahkan ada yang mirip butiran batu. “Kami berharap diganti dengan beras yang lebih baik,” kata seorang warga.
Secara regulasi, Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) berkewajiban menjaga ketersediaan, kualitas, serta stabilitas pangan pokok, termasuk beras. Fungsi itu jelas diatur dalam berbagai peraturan pemerintah. Namun, lemahnya pengawasan membuat publik meragukan efektivitas peran Bulog di daerah.
Wayan menegaskan DPRD akan menindaklanjuti persoalan ini dengan mendesak Dinas Pangan turun tangan. “Kalau Bulog terus diam, ini bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap program bantuan pemerintah,” katanya.
Kasus Ongka Malino kini memicu pertanyaan lebih besar: apakah persoalan beras hanya terjadi di sini, atau juga merembet ke wilayah lain di Parigi Moutong? Publik masih menunggu jawabannya.













