Skandal Solar Subsidi di SPBU Mensung

Karyawan Diduga Ikut Bermain, Pertamina Bungkam, Publik Geram

Jeriken-jeriken kosong yang kerap dipakai menampung solar subsidi tampak di sekitar SPBU Mensung, Parigi Moutong, Kamis (25/9/2025).

Wartawan : Faisal, S.H

Koranpalu.com | Parigi Moutong – Dugaan permainan jatah BBM bersubsidi jenis solar di SPBU Mensung makin terang-benderang. Oknum karyawan SPBU diduga ikut bermain jatah dengan memanfaatkan barcode milik petani dan nelayan demi mendapatkan solar subsidi. Anehnya, praktik itu berlangsung terang-terangan di depan mata manajemen, namun tidak ada tindakan.

Pantauan koranpalu.com memperlihatkan, pengisian solar subsidi berlangsung rutin Senin hingga Sabtu, pukul 12.00–15.00 WITA. Dalam rentang waktu itu, antrean dipenuhi warga yang berharap bisa mendapat jatah. Tetapi, yang lebih sering dilayani justru karyawan SPBU dan kerabat mereka yang berprofesi sebagai pengepul.

“Bahkan stok solar yang seharusnya disiapkan untuk kebutuhan darurat justru disedot habis untuk jatah orang dalam, mulai dari pengawas, manajer, sampai pihak tertentu yang dianggap berpengaruh,” kata salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Masyarakat mengeluh harus antre hingga berhari-hari, bahkan seminggu penuh, demi mendapatkan solar. Sebaliknya, kerabat karyawan bisa menikmati jatah hampir setiap hari tanpa hambatan. “Kami hanya dapat sisa, sementara orang dalam bisa setiap hari,” ungkap sumber tersebut dengan nada geram.

Kondisi ini jelas menimbulkan ketidakadilan. Solar subsidi yang mestinya menjadi hak petani dan nelayan justru dinikmati segelintir orang. Praktik ini bukan saja merugikan masyarakat, tetapi juga mencederai kepercayaan publik terhadap sistem distribusi BBM bersubsidi.

Lebih mengejutkan, saat wartawan koranpalu.com, Faisal S.H, mencoba mengonfirmasi manajer Pertamina wilayah, Farid Pundanga, pesan yang dikirimkan hanya centang satu. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada jawaban. Diduga kuat nomor wartawan telah diblokir sehingga konfirmasi sengaja dihambat.

Sikap bungkam ini menimbulkan kecurigaan besar. Pertamina sebagai perusahaan negara seharusnya bertanggung jawab menjaga distribusi BBM subsidi tetap tepat sasaran. Diamnya manajer wilayah justru memperkuat dugaan adanya pembiaran atas penyimpangan yang terjadi di lapangan.

Masyarakat kini menaruh harapan besar kepada aparat penegak hukum serta pemilik saham PT ARBA selaku pengelola SPBU Mensung. Mereka mendesak agar oknum karyawan yang ikut bermain segera ditindak tegas, diberhentikan dari jabatan, dan diproses hukum.

“Kalau dibiarkan, ini bukan lagi penyalahgunaan biasa, tapi perampasan hak masyarakat kecil oleh orang-orang yang seharusnya menjaga keadilan distribusi,” tegas salah satu warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *