Koranpalu.com, Palu, 28 Juli 2025 — Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) Universitas Tadulako (UNTAD) 2025 berubah menjadi konflik terbuka antar mahasiswa. Dua kubu berbeda terlibat aksi saling pukul, yang kemudian berujung pada pelaporan ke pihak kepolisian.
Insiden ini terjadi di dua lokasi dan waktu berbeda. Kejadian pertama berlangsung pada Sabtu malam (26/7), sementara yang kedua terjadi Minggu sore (27/7) di kawasan Hunian Tetap (Huntap) II, Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.
Asrar, mahasiswa yang mengaku sebagai korban pemukulan di Huntap, mengaku sebelumnya sempat memukul Refan — Ketua UKM Sirenja — karena merasa difitnah dalam sebuah poster kampus yang menuduh dirinya sebagai pelaku pelecehan seksual.
“Saya pukul dia karena dia yang tempel poster saya. Saya minta dia tunjuk siapa yang sebarkan, dia tidak mau, malah keras kepala. Katanya hanya disuruh sama Fikri dan tidak tahu apa-apa,” ujar Asrar.

Tak lama setelah insiden pertama, Asrar mengaku menjadi korban penyerangan. Sekelompok orang berjumlah sekitar 20 orang datang ke tempat tinggalnya dan melakukan pemukulan secara bersama-sama.
“Saya dipukul ramai-ramai, saya kenal beberapa, tapi ada juga yang bukan mahasiswa. Ada yang saya curigai aparat, tapi kami masih selidiki kebenarannya,” jelasnya.
Laporan kepolisian atas kejadian ini telah dibuat oleh Asrar ke Polresta Palu dengan nomor: STPL/01010/VII/2025/SPKT/Polresta Palu/Polda Sulteng.
Refan, mahasiswa yang dipukul terlebih dahulu oleh Asrar, diketahui juga telah lebih dulu membuat laporan polisi. Hingga saat ini, pihak kepolisian telah menerima dua laporan dan sedang memprosesnya secara paralel.
Keduanya saling menuding sebagai pemicu konflik. Asrar mengklaim tindakan pemukulan awalnya sebagai bentuk protes atas pencemaran nama baik, sementara Refan menyebutnya sebagai penganiayaan murni.
Akar dari konflik ini diyakini berkaitan erat dengan Pemira UNTAD 2025. Asrar yang mengklaim menang dalam Pemira menyebut dirinya tidak dilantik oleh pihak kampus karena alasan dugaan pelanggaran etik. Hal ini menimbulkan gejolak di kalangan pendukungnya dan memicu berbagai bentuk protes.
Asrar dan timnya bahkan menyatakan siap menggugat pihak kampus melalui jalur hukum.
Salah satu pernyataan serius datang dari Asrar yang menyebut bahwa salah satu pelaku pemukulan terhadap dirinya diduga merupakan anggota aparat.
“Kalau betul dia oknum aparat, kita akan lapor ke Polisi Militer. Kami sedang cari tahu identitas aslinya,” ujarnya.

📝 Catatan Redaksi
Berita ini disusun berdasarkan keterangan dari salah satu pihak yang terlibat. Redaksi KoranPalu.com masih menunggu konfirmasi dan hak jawab dari Refan, UKM Sirenja, serta pihak rektorat Universitas Tadulako. Redaksi berkomitmen menyajikan informasi secara berimbang dan sesuai kode etik jurnalistik.













