JIK-NAH Dideklarasikan di Jombang, Tegaskan Jombang sebagai Pusat Peradaban Nahdliyin

Koranpalu.com-JOMBANG – Momentum Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-103 menjadi penanda lahirnya wadah perjuangan Jombang Ibu Kota Nahdliyin (JIK-NAH). Organisasi ini resmi dideklarasikan pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Deklarasi berlangsung di pelataran makam keluarga almarhum KH Drs Choirul Anam (Cak Anam) yang berada di Dusun Kemiri Galih, Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto. Rangkaian acara diawali dengan khotmil Qur’an, tahlil, pembacaan Diba’, serta tabur bunga sebagai bentuk penghormatan atas jasa tokoh senior NU dan insan pers tersebut.

JIK-NAH dipimpin oleh KH Muhtazuddin, SH, yang merupakan adik kandung almarhum Cak Anam. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Jombang memiliki posisi istimewa dalam sejarah NU sebagai pusat lahirnya peradaban santri dan tokoh-tokoh besar, di antaranya KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah.

Menurutnya, kehadiran JIK-NAH menjadi upaya menjaga peran strategis Jombang agar tetap menjadi penguat nilai-nilai NU yang kokoh, terbuka, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

JIK-NAH menargetkan Jombang sebagai poros spiritual, intelektual, dan kultural NU melalui sejumlah misi, antara lain penguatan budaya Ahlussunnah wal Jamaah, pengembangan kajian kitab kuning, pembinaan hafidz dan hafidzah, penguatan ekonomi pesantren, serta penerapan tata kelola organisasi yang transparan. Prinsip persatuan (wihdah) menjadi landasan utama gerakan ini.

Pada kesempatan yang sama, KH Muhammad Sami’an, SPdI, dalam tausiyahnya mengingatkan pentingnya saling menolong dan memudahkan urusan sesama. Ia menegaskan bahwa Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi siapa pun yang membantu orang lain.

Selain itu, KH Sami’an menekankan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua, yang menurutnya memiliki kedudukan sangat mulia dalam Islam. Menghormati dan mengabdi kepada orang tua merupakan cerminan utama akhlak seorang Muslim.

Menutup tausiyahnya, ia berpesan bahwa kualitas sumber daya manusia lebih penting daripada jumlah anggota.
“Tidak masalah jumlahnya sedikit, selama orang-orang di dalamnya memiliki kualitas. Itu jauh lebih baik dibandingkan banyak tetapi tidak bermutu,” ujarnya.

Acara deklarasi ditutup dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama. Kegiatan berlangsung penuh kekhidmatan dan keakraban, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan warga Nahdliyin Jombang.

Abin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *