Preservasi Jalan Buol–Lingadan Dikebut, BPJN: Infrastruktur Harus Tetap Layani Lalu Lintas

Pekerja melakukan pembangunan struktur penahan longsor di ruas Jalan Nasional Buol–Lakuan–Laulalang–Lingadan, Sabtu (6/7/2025). Proyek ini ditangani oleh PPK 1.2 Provinsi Sulawesi Tengah dengan paket pekerjaan penanganan longsoran menggunakan pasangan batu mortar di STA KM 276+625. Penanganan ini penting untuk menjaga kestabilan tebing dan kelancaran arus lalu lintas.

Buol, Koranpalu.Com — Pemerintah melalui Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah terus menggenjot peningkatan kualitas infrastruktur jalan nasional di wilayah utara Sulteng. Tahun 2025 ini, ruas Buol–Lakuan–Laulalang–Lingadan kembali menjadi prioritas penanganan oleh PPK 1.2, dengan berbagai pekerjaan preservasi dan pemeliharaan jangka panjang.

PPK 1.2 BPJN Sulteng, Eko Prasetyo Galih, dalam wawancara bersama Koranpalu.com, menjelaskan bahwa proyek ini meliputi pekerjaan fisik sepanjang kurang lebih 119 kilometer, dari perbatasan Buol hingga Lingadan di Tolitoli.

“Cakupannya itu sepanjang kurang lebih 119 kilometer dari perbatasan Buol–Lakuan–Laulalang sampai ke Lingadan, Tolitoli. Yang kami fokuskan adalah penanganan longsoran, perbaikan drainase, pemeliharaan rutin jalan, dan pemeliharaan jembatan,” ujar Eko, Sabtu (12/7/2025).

Eko menyebutkan, titik-titik prioritas saat ini berada di Ambotuban, Pinjan, hingga Mokupo, yang kerap rusak akibat hujan deras dan kontur tanah yang labil.

“Kendalanya ya biasa, cuaca ekstrem cukup memengaruhi pekerjaan di lapangan serta mobilisasi material yang cukup jauh dari sumber. Beberapa titik longsor juga butuh penanganan cepat agar tak meluas,” tambahnya.

Penanganan longsoran di ruas tersebut dikerjakan oleh CV. Bangkit Persada, dengan nilai kontrak Rp4,4 miliar yang mencakup lima titik perbaikan.

“Kami tetap melakukan pengawasan ketat terhadap kualitas pekerjaan. Ada tim konsultan supervisi yang setiap hari turun ke lapangan. Selain itu, pihak penyedia juga wajib melaporkan progres harian,” jelas Eko.

BPJN Sulteng juga melibatkan masyarakat sekitar melalui program padat karya, khususnya untuk pekerjaan pengecatan jembatan, pembersihan saluran, dan perawatan rumput di bahu jalan.

“Kami ingin program ini bukan hanya sekadar infrastruktur, tapi juga berdampak ekonomi. Warga bisa terlibat langsung menjaga jalannya juga,” terangnya.

Respons masyarakat, menurutnya, sangat positif. Warga ikut menjaga kebersihan dan keamanan area kerja.

Hingga pertengahan Juli 2025, progres fisik proyek diklaim masih sesuai target, dan BPJN terus memantau capaian bulanan mulai dari material hingga jumlah tenaga kerja.

“Kami berupaya sampai dengan akhir tahun kondisi arus lalu lintas tetap berjalan lancar dan jalan mampu melayani pengguna. Di beberapa titik kami juga pasang rambu peringatan demi keselamatan pengguna jalan,” ujar Eko.

Menutup pernyataannya, Eko mengimbau masyarakat untuk turut menjaga infrastruktur jalan yang telah dibangun.

“Saya harap masyarakat bisa ikut jaga hasilnya. Jangan rusak drainase, jangan parkir di bahu jalan. Infrastruktur itu tanggung jawab bersama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *