KORANPALU.COM |KABUL — Tangis dan kepanikan menyelimuti puing-puing sebuah rumah sakit di Kabul, Afghanistan, setelah serangan udara mematikan pada senin (16\03) menghantam bangunan tersebut. Tragedi itu dilaporkan menewaskan lebih dari 400 orang dan melukai ratusan lainnya, menjadikannya salah satu insiden paling berdarah dalam konflik yang kembali memanas di kawasan tersebut.
Sejak pagi hari setelah serangan, puluhan keluarga berkumpul di sekitar reruntuhan bangunan yang hancur. Mereka mencari anggota keluarga yang hilang di antara beton yang runtuh, serpihan kaca, serta peralatan medis yang berserakan. Banyak di antara mereka membawa foto kerabat yang hilang, sementara yang lain memanggil nama orang yang mereka cintai dengan harapan masih ada yang selamat.
Seorang saksi mata yang berada di dekat lokasi mengatakan ledakan terjadi secara tiba-tiba saat rumah sakit sedang dipenuhi pasien. “Kami mendengar suara pesawat di langit, lalu ledakan besar mengguncang seluruh bangunan. Dalam hitungan detik, rumah sakit itu runtuh dan orang-orang berlari menyelamatkan diri,” ujarnya.
Tim penyelamat dan relawan kemanusiaan masih terus menggali reruntuhan untuk mencari korban yang kemungkinan masih terjebak. Ambulans terlihat hilir-mudik membawa korban luka ke fasilitas kesehatan lain yang masih berfungsi.
Pemerintah Afghanistan menuding militer Pakistan berada di balik serangan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan terhadap warga sipil. Menurut pejabat Afghanistan, fasilitas kesehatan seharusnya menjadi lokasi yang dilindungi oleh hukum humaniter internasional.
“Serangan terhadap rumah sakit yang dipenuhi pasien dan tenaga medis merupakan pelanggaran serius terhadap hukum perang,” kata seorang pejabat pemerintah Afghanistan dalam pernyataan resminya.
Pemerintah Afghanistan juga mendesak komunitas internasional untuk melakukan penyelidikan independen guna memastikan siapa yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
Sementara itu, pemerintah Pakistan membantah tuduhan bahwa mereka menargetkan warga sipil. Dalam pernyataan resmi, Islamabad menyebut operasi udara tersebut bertujuan menghancurkan lokasi yang diduga digunakan kelompok militan yang beroperasi di dekat wilayah perbatasan.
Militer Pakistan menyatakan serangan dilakukan berdasarkan informasi intelijen yang menunjukkan keberadaan kelompok bersenjata di lokasi tersebut. Namun klaim itu masih menuai perdebatan karena laporan dari lapangan menunjukkan banyak korban berasal dari kalangan pasien dan tenaga medis.
Serangan terhadap rumah sakit ini memicu kecaman dari berbagai organisasi kemanusiaan internasional. Mereka menegaskan bahwa fasilitas kesehatan harus dilindungi dalam konflik bersenjata, sesuai dengan konvensi internasional tentang perlindungan warga sipil.
Tragedi ini juga memperparah kondisi kemanusiaan di Afghanistan yang telah lama dilanda konflik dan krisis ekonomi. Banyak rumah sakit di negara itu sudah kekurangan obat-obatan, tenaga medis, dan fasilitas perawatan.
Sementara tim penyelamat terus bekerja di lokasi kejadian, keluarga korban masih bertahan di sekitar puing-puing rumah sakit dengan harapan menemukan kabar tentang orang yang mereka cintai—baik dalam keadaan selamat maupun sekadar untuk memastikan nasib mereka.











