
KORANPALU.COM BEIRUT, Lebanon – Suasana malam di pesisir kota Beirut berubah menjadi kepanikan setelah serangkaian ledakan menghantam area yang dipenuhi pengungsi. Serangan udara yang disebut menggunakan taktik “double-tap”menghantam kawasan tepi laut yang selama beberapa hari terakhir menjadi tempat berlindung warga sipil yang melarikan diri dari perang.
Menurut otoritas kesehatan Lebanon, sedikitnya delapan orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka ketika dua ledakan terjadi dalam selang waktu singkat di kawasan Ramlet al-Baida, sebuah pantai publik yang berubah menjadi tempat pengungsian darurat.
Ledakan pertama menghantam area tempat warga mendirikan tenda dan tidur di ruang terbuka. Beberapa menit kemudian, saat warga dan relawan mencoba menolong korban, serangan kedua kembali mengguncang lokasi yang sama.
Saksi mata menggambarkan situasi yang sangat mencekam.
“Kami sedang menarik orang dari puing-puing setelah ledakan pertama. Tiba-tiba ledakan kedua datang dan semua orang berlari,” kata seorang warga Beirut kepada media lokal.
Dalam beberapa minggu terakhir, ribuan warga yang kehilangan rumah akibat serangan udara memilih tidur di taman kota, mobil, bahkan di sepanjang pantai Beirut. Fenomena ini terjadi karena banyak tempat penampungan telah penuh.
Menurut laporan internasional, gelombang serangan udara telah memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah mereka di Lebanon.
Pemerintah Lebanon mencatat lebih dari 500 ribu warga telah terdaftar sebagai pengungsi internal, sementara ratusan ribu lainnya tinggal di lokasi sementara di luar tempat penampungan resmi. Pantai Ramlet al-Baida sendiri menjadi salah satu tempat yang paling ramai karena dianggap relatif terbuka dan jauh dari target militer.
Serangan di Beirut terjadi di tengah meningkatnya konflik antara Israel dan kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah. Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara besar ke berbagai wilayah Lebanon, termasuk pinggiran selatan Beirut yang dianggap sebagai basis Hezbollah.
Serangan tersebut merupakan balasan atas serangan roket dan drone Hezbollah ke wilayah Israel, yang menandai salah satu eskalasi paling serius dalam konflik terbaru di kawasan tersebut.Militer Israel menyatakan serangannya menargetkan peluncur rudal dan fasilitas militer Hezbollah. Namun, sejumlah serangan juga terjadi di wilayah padat penduduk, memicu kritik dari berbagai organisasi kemanusiaan.
Taktik “double-tap strike” merujuk pada serangan kedua yang dilakukan setelah serangan awal menghantam target yang sama. Strategi ini sangat kontroversial karena sering menimbulkan korban tambahan di antara tim penyelamat dan warga yang datang membantu korban pertama.
Sejumlah pakar hukum humaniter internasional menyebut praktik tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai kepatuhan terhadap hukum perang, terutama jika menyerang area yang dipenuhi warga sipil.
Organisasi kemanusiaan dan pengamat konflik mendesak penyelidikan independen untuk memastikan apakah serangan tersebut melanggar hukum humaniter internasional
Konflik yang semakin intens telah menjerumuskan Lebanon ke dalam salah satu krisis kemanusiaan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.Serangan udara terus berlangsung di berbagai kota, sementara jumlah korban dan pengungsi terus meningkat.
Beberapa laporan menyebut lebih dari 600 orang telah tewas dan ratusan ribu keluarga kehilangan rumah, sementara infrastruktur sipil seperti rumah, rumah sakit, dan fasilitas umum mengalami kerusakan besar. Pemerintah Lebanon kini berjuang menangani lonjakan pengungsi, sementara bantuan internasional mulai mengalir untuk membantu korban perang.













