Inovasi Petani, Ubah Pohon Pisang Jadi Pupuk Kompos Berkualitas Tinggi

Pohon pisang bisa jadi pupuk yang menyuburkan

Pohon pisang mengandung unsur hara seperti kalium, fosfor, dan kalsium yang sangat bermanfaat bagi tanaman.
Pohon pisang mengandung unsur hara seperti kalium, fosfor, dan kalsium yang sangat bermanfaat bagi tanaman.

Koranpalu.com Siapa sangka, pohon pisang yang biasanya dibiarkan membusuk ternyata bisa diolah menjadi pupuk kompos bernutrisi tinggi.

Teknik ini kini mulai diterapkan sejumlah kelompok tani berbagai daerah karena murah, ramah lingkungan, dan mampu meningkatkan kesuburan tanah. (28/9)

Pohon pisang mengandung unsur hara seperti kalium, fosfor, dan kalsium yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Jika diolah dengan benar, kompos dari pohon pisang dapat menjadi alternatif pupuk organik yang mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Cara membuat pupuk kompos dari pohon pisang, pertama adalah mengumpulkan bahan baku. Bagian pohon pisang yang digunakan meliputi batang, pelepah, dan daun yang sudah ditebang.

Bahan-bahan ini kemudian dicacah atau dipotong kecil-kecil agar lebih cepat terurai. Setelah itu, siapkan bahan pendukung seperti kotoran ternak (sapi atau kambing).

Jangan lupa tambahkan dedak, gula merah cair, dan air secukupnya. Semua bahan ini berfungsi sebagai sumber karbon dan mikroba yang mempercepat proses pengomposan.

Proses pembuatan dimulai dengan menyusun potongan batang pisang secara berlapis. Setiap lapisan diberi campuran kotoran ternak, dedak, dan larutan gula merah yang sudah dilarutkan dalam air.

Tumpukan ini disiram hingga lembap, kemudian ditutup dengan terpal. Fermentasi biasanya berlangsung selama 3–4 minggu.

Selama proses tersebut, tumpukan kompos perlu dibolak-balik setiap 5–7 hari sekali untuk memastikan aerasi cukup. Kompos yang matang akan berwarna cokelat tua, tidak berbau busuk, dan teksturnya remah.

Biaya pembuatan kompos dari pohon pisang relatif murah. Untuk skala 1 ton bahan baku, biaya yang dibutuhkan hanya sekitar Rp 500 ribu–700 ribu, jauh lebih rendah dibandingkan membeli pupuk kimia.

Hasilnya dapat digunakan sendiri di lahan pertanian atau dijual kembali dengan harga Rp 1.500–2.000 per kg. Sehingga memberikan nilai tambah bagi petani. Selain itu, pemanfaatan limbah pohon pisang membantu mengurangi penumpukan sampah organik di kebun.

Tanah menjadi lebih subur karena kandungan organik meningkat, sehingga produksi tanaman seperti cabai, tomat, atau sayuran daun bisa lebih optimal.

Inovasi ini menunjukkan bahwa bahan-bahan sederhana di sekitar kita bisa diubah menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menambah penghasilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *