KORANPALU.COM | Tolitoli — Tiga puluh tahun sudah Desa Bambalaga berdiri sebagai desa transmigrasi di Kecamatan Ogodeide, Kabupaten Tolitoli. Namun hingga kini, desa yang dihuni mayoritas petani itu masih menghadapi persoalan mendasar: akses jalan keluar dan masuk desa yang belum pernah mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Didirikan pada tahun 1996 sebagai bagian dari program transmigrasi pemerintah, Desa Bambalaga awalnya diharapkan menjadi kawasan pertanian yang berkembang dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun harapan tersebut perlahan memudar karena kondisi infrastruktur yang tidak kunjung dibangun, terutama jalan penghubung menuju desa tersebut.
Bagi masyarakat Bambalaga, jalan bukan sekadar fasilitas transportasi, tetapi menjadi urat nadi kehidupan desa. Melalui jalan itulah warga mengangkut hasil kebun, anak-anak berangkat ke sekolah, serta masyarakat mengakses pelayanan kesehatan dan kebutuhan pokok di luar desa.
Ironisnya, sejak berdiri hampir tiga dekade lalu, jalan menuju desa itu disebut belum pernah menjadi prioritas pembangunan daerah. Warga mengaku tidak pernah melihat adanya program perbaikan atau peningkatan jalan yang masuk dalam agenda pembangunan Kabupaten Tolitoli.
Akibatnya, kondisi jalan yang ada saat ini masih berupa jalan tanah dengan banyak lubang dan kerusakan di berbagai titik. Ketika musim hujan tiba, jalan tersebut berubah menjadi lumpur tebal yang menyulitkan kendaraan untuk melintas.
“Kalau hujan turun, jalan hampir tidak bisa dilewati. Motor sering jatuh, mobil pun kadang terjebak di lumpur,” kata seorang warga Bambalaga.
Mayoritas masyarakat di desa tersebut menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Mereka menanam berbagai komoditas kebun untuk dijual ke pasar di wilayah sekitar. Namun buruknya akses jalan membuat distribusi hasil pertanian menjadi lebih sulit dan memakan waktu lebih lama.
Tidak jarang petani harus menanggung biaya transportasi yang lebih tinggi karena kendaraan sulit mencapai desa. Kondisi ini secara langsung memengaruhi pendapatan masyarakat.
Selain berdampak pada ekonomi, kerusakan jalan juga memengaruhi akses pendidikan dan layanan kesehatan. Dalam situasi darurat, warga sering kali harus menghadapi perjalanan yang berat dan memakan waktu lama untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat.
Selama 30 tahun terakhir, masyarakat Bambalaga mengaku tetap bersabar menunggu perhatian pemerintah. Namun silih berganti kepemimpinan di daerah belum juga membawa perubahan nyata bagi pembangunan infrastruktur di desa tersebut.
Bagi warga, pembangunan jalan bukan hanya soal kenyamanan perjalanan, tetapi juga tentang masa depan desa. Infrastruktur yang layak diyakini dapat membuka akses ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menghubungkan desa dengan perkembangan wilayah di sekitarnya.
Kini masyarakat Bambalaga berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki akses jalan menuju desa mereka, agar desa yang telah berdiri sejak puluhan tahun lalu itu tidak lagi merasa terpinggirkan dari peta pembangunan Kabupaten Tolitoli.
