KORANPALU.COM | PARIGI MOUTONG — Suasana rapat paripurna DPRD Kabupaten Parigi Moutong, awal pekan ini, tak sepenuhnya diwarnai pembahasan angka-angka laporan keuangan. Di sela penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK, isu lain mencuat: kondisi tenaga kesehatan di Kecamatan Ongka Malino.
Anggota DPRD dari Fraksi Perindo, Wayan Murtama, mengangkat persoalan tersebut di hadapan pimpinan sidang dan bupati. Ia menyebut jumlah perawat di Puskesmas Ongka Malino tidak lagi sebanding dengan beban pelayanan yang harus ditangani setiap hari.
“Dalam kondisi darurat, mereka sering kewalahan,” kata Wayan dalam forum itu.
Menurut dia, keterbatasan personel membuat satu perawat bisa merangkap berbagai tugas, dari pelayanan rawat jalan hingga penanganan pasien gawat darurat. Situasi ini, ujarnya, berpotensi menurunkan kualitas layanan jika tidak segera diatasi.
Persoalan bertambah rumit setelah insiden pemukulan terhadap salah satu tenaga medis beberapa waktu lalu. Kasus tersebut kini ditangani aparat kepolisian. Namun, peristiwa itu disebut meninggalkan trauma bagi para perawat.
Sejumlah tenaga kesehatan, kata Wayan, mengaku merasa khawatir saat bertugas, terutama pada jam-jam rawan. “Mereka butuh jaminan keamanan agar bisa bekerja dengan tenang,” ujarnya.
Tempo yang mencoba menelusuri persoalan ini memperoleh keterangan bahwa fasilitas keamanan di lingkungan puskesmas memang terbatas. Hingga kini belum tersedia petugas keamanan khusus. Area puskesmas juga belum dilengkapi pagar pembatas yang memadai.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan kerentanan terhadap gangguan, sekaligus memengaruhi kenyamanan tenaga medis yang harus berjaga hingga malam hari.
Dalam rapat itu, Wayan mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret. Ia mengusulkan penambahan jumlah perawat, penyediaan petugas keamanan, serta pembenahan sarana pendukung keselamatan di fasilitas kesehatan tersebut.
Menurut dia, keselamatan tenaga kesehatan tak bisa dipisahkan dari kualitas pelayanan publik. Tanpa rasa aman, tenaga medis sulit bekerja optimal. “Kalau mereka tidak merasa terlindungi, pelayanan kepada masyarakat tentu ikut terdampak,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah terkait rencana penambahan tenaga maupun pengamanan di Puskesmas Ongka Malino. Namun isu ini diperkirakan akan menjadi perhatian dalam pembahasan lanjutan di DPRD.
Di Ongka Malino, para perawat tetap bertugas seperti biasa. Di balik seragam putih mereka, ada beban kerja yang kian berat—dan harapan sederhana: bekerja dengan cukup rekan dan tanpa rasa takut.
