Koranpalu.com | Ongka Malino – Keluhan warga Ongka Malino, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, soal beras bantuan Perum Bulog yang dinilai keras “seperti batu” akhirnya membuat Camat Ongka Malino, Baso Amirullah, angkat bicara. Ia memastikan ada mekanisme penukaran bagi warga yang menerima beras rusak.
Menurut Baso, Kepala Bulog di Ongka melalui Kapolsek Lambunu telah menyampaikan solusi agar warga tidak dirugikan.
“Kalau ada beras yang rusak, dibawa saja ke Bulog untuk diganti. Informasi ini sudah kami sampaikan ke Apdesi dan beberapa kepala desa,” ujar Baso kepada wartawan, Minggu (24/8).
Sebelumnya, Asosiasi Pemerintah Desa Indonesia (Apdesi) Kecamatan Ongka Malino sempat meminta dilakukan mediasi dengan Kepala Bulog setempat pada 17 Agustus 2025. Namun rencana itu tertunda karena bertepatan dengan peringatan HUT Proklamasi RI.
Baso menegaskan, pihaknya berharap kualitas beras bantuan ditingkatkan. “Kami hanya berharap pemerintah menyalurkan beras premium agar lebih enak dikonsumsi,” kata dia.
Dalam pernyataan pribadi, Baso juga menyinggung pengalamannya semasa tinggal di asrama tentara yang kerap mengonsumsi beras Bulog. “Orang tua dulu menyiasati dengan mencampur beras pulut agar lebih enak. Jenis beras ini malah banyak disukai pedagang nasi goreng,” kenangnya.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Bulog Ongka belum memberikan keterangan resmi terkait jumlah beras bantuan yang disalurkan ke Ongka Malino maupun berapa banyak keluarga penerima manfaat (KPM). Diamnya Bulog memunculkan pertanyaan publik tentang transparansi distribusi pangan.
Perum Bulog sejatinya memiliki mandat besar berdasarkan peraturan pemerintah: menjaga ketersediaan pangan pokok, menstabilkan harga beras, serta memastikan distribusi yang merata dan layak konsumsi bagi masyarakat. Karena itu, kasus kualitas beras di Ongka Malino dinilai tidak sejalan dengan fungsi utama Bulog.
Salah seorang warga penerima bantuan, yang enggan disebut namanya, mengaku kecewa. “Berasnya keras sekali, anak-anak susah makan. Kalau bisa ditukar memang lebih baik,” ujarnya.
Upaya konfirmasi yang dilakukan ke pihak Bulog Ongka belum direspons hingga berita ini diterbitkan.
Publik kini menanti: apakah mekanisme penukaran beras benar-benar berjalan, atau persoalan kualitas beras bantuan hanya menjadi cerita berulang? Dan yang lebih penting, apakah Ongka Malino satu-satunya kecamatan yang menghadapi masalah ini, atau fenomena serupa juga terjadi di daerah lain di Parigi Moutong?
